Di tanah Minang yang subur makmur hiduplah seorang gadis manis yang bernama Uni Nesya. Hidupnya serba sederhana namun tak pernah ada fase dimana ia bersedih berlarut-larut. Senyumannya yang selalu membuat orang lain bersemangat dalam hidup karena hidup ini terlalu berhrga untuk disia-siakan.
Tiba saatnya ia melanjutkan studinya ke jenjang perkuliahan. Seperti orang Minang lainnya, ia diajarkan untuk merantau, bahkan untuk daerah yang masih memegang teguh tradisi, anak smp diwajibkan untuk merantau.
Entah mengapa Uni Nesya memilih Jakarta sebagai tempat untuk melanjutkan studinya. Ia meminta restu dari orang tua nya dan keluarga pacarnya. Uni sangat diterima di tengah keluarga Akbar. Selain pintar, ia juga sangat ramah. Keluarga Akbar sangat mendukung Uni untuk masuk ke fakultas kedokteran, karena orang tua Akbar dua-duanya juga dokter. Dan Akbar sendiri memilih untuk berwiraswasta mengembangkan modal dari orang tuanya. Walaupun usia Akbar sangat muda, ia tak pernah kehabisan uang karena ia punya banyak supermarket di Padang.
Berangkatlah Uni ke Jakarta dengan harapan ketika ia pulang ke Padang, ia sudah menjadi dokter.
Ternyata Tuhan berkehendak lain. Uni telah menyelesaikan kuliahnya tapi ia harus mengikuti koas untuk menjadi seorang dokter. Tiba-tiba……
Kring..Kring…Kring….
“Uni, ada telepon dari Padang” teriak Ibu Kos.
“Ya, bu!”
“Uni ini Bundo nak, Bundo mau kasih kamu kabar bahwa Bundo tak bisa membayar biaya koasmu, sudahlah kau pulang saja”
Bagaikan cangkang telur yang pecahperlahan-lahan ketika anak ayam menetas.
“Iyo bundo, besok Uni pulang”
Keluarga Uni sangat menyesal akan nasib yang Uni alami. Hanya dengan kurun waktu 2 tahun lagi, Uni akan menjadi seorang dokter. Uni pun bersedih namun tak kecewa sebab nasib orang siapa yang tahu. Akhirnya Uni membuaka usaha cleaning service kecil-kecilan. Setiap hari bekerja membersihkan bioskop beserta 5 orang karuyawannya. Pernah suatu hari, ia harus membersihkan bioskop sendirian karena karyawan-karyawannya sedang ada keperluan.
Yang sangat diherankan, keluarga akbar tiba-tiba berubah 180 derajat. Ketika Akbar meminta izin keluarganya untuk menikahi Uni, semua angkta bicara untuk menolak perihal tersebut. Dan Uni pun akhirnya sadar bahwa keluarga Akbar hanya ingin mengangkat menantu dari keluarga yang status sosialnya sama. Hati Uni berkecmuk luka, seakan-akan kasih sayng itu berubah menjadi monster balas dendam. Namun semua itu dapat Uni lupakan seiring berjalannya waktu.
Uni tetap bekerja di bioskop tersebut hingga pada suatu saat Tuhan memberikan kesempatan pada dirinya untuk mengobrol dengan anak pemilik bioskop tersebut. Dialah yang bernama Rendi. Rendi mengajak Uni untuk ikut dalam partai yang ia ikuti karena tak dapat diragukan lagi bahwa Uni pintar berorganisasi. Dari hasil pembicaraanya dengan Uni, ia mengetahui bahwa Uni pernah menjadi ketua Osis saat duduk di SMA dan menjadi ketua senat saat ia kuliah di Jakarta.
Tuhan memang Maha Kuasa, Ia memberikan yang terbaik bagi makhluknya selama ia berusaha.
Uni terbujuk juga untuk masuk dalam partai itu dan lama-kelamaan ia terus naik jabatan. Ia adalah pekerja keras, mau ditempatkan di derah mana saja dan kapan saja, waktu istirahatnya sangat tersita oleh tugas-tugas sehingga tak heran jika ia harus mencuri-curi waktu dalam perjalanan untuk sejenak tidur. Karunia datang. ia diangkat menjadi duta di Australia. Ia tidak ada perasaan nervous sedikitpun walau ia bukan dari studi politik maupun pemerintaha, melainkan dari kedokteran, ia mampu menjadi duta.
Di Australia ia berkenalan dengan Bemby, pemuda akan bergelar doktor yang juga berasal dari Padang. Mereka berdua saling mencintai, akhirnya mereka pulang ke Padang setelah Bemby selesai mendapatkan gelar doktor. Mereka berdua menikah, Uni diangkat menjadi Menteri Sosial dan Politik. Tanpa dinyana, Bemby adalah sepupu Akbar. Kini Uni merupakan orang yang tersukses di keluarga Akbar.