Cerita dari Cantiq

Di tanah Minang yang subur makmur hiduplah seorang gadis manis yang bernama Uni Nesya. Hidupnya serba sederhana namun tak pernah ada fase dimana ia bersedih berlarut-larut. Senyumannya yang selalu membuat orang lain bersemangat dalam hidup karena hidup ini terlalu berhrga untuk disia-siakan.

Tiba saatnya ia melanjutkan studinya ke jenjang perkuliahan. Seperti orang Minang lainnya, ia diajarkan untuk merantau, bahkan untuk daerah yang masih memegang teguh tradisi, anak smp diwajibkan untuk merantau.

Entah mengapa Uni Nesya memilih Jakarta sebagai tempat untuk melanjutkan studinya. Ia meminta restu dari orang tua nya dan keluarga pacarnya. Uni sangat diterima di tengah keluarga Akbar. Selain pintar, ia juga sangat ramah. Keluarga Akbar sangat mendukung Uni untuk masuk ke fakultas kedokteran, karena orang tua Akbar dua-duanya juga dokter. Dan Akbar sendiri memilih untuk berwiraswasta mengembangkan modal dari orang tuanya. Walaupun usia Akbar sangat muda, ia tak pernah kehabisan uang karena ia punya banyak supermarket di Padang.

Berangkatlah Uni ke Jakarta dengan harapan ketika ia pulang ke Padang, ia sudah menjadi dokter.

Ternyata Tuhan berkehendak lain. Uni telah menyelesaikan kuliahnya tapi ia harus mengikuti koas untuk menjadi seorang dokter. Tiba-tiba……

Kring..Kring…Kring….

“Uni, ada telepon dari Padang” teriak Ibu Kos.

“Ya, bu!”

“Uni ini Bundo nak, Bundo mau kasih kamu kabar bahwa Bundo tak bisa membayar biaya koasmu, sudahlah kau pulang saja”

Bagaikan cangkang telur yang pecahperlahan-lahan ketika anak ayam menetas.

“Iyo bundo, besok Uni pulang”

Keluarga Uni sangat menyesal akan nasib yang Uni alami. Hanya dengan kurun waktu 2 tahun lagi, Uni akan menjadi seorang dokter. Uni pun bersedih namun tak kecewa sebab nasib orang siapa yang tahu. Akhirnya Uni membuaka usaha cleaning service kecil-kecilan. Setiap hari bekerja membersihkan bioskop beserta 5 orang karuyawannya. Pernah suatu hari, ia harus membersihkan bioskop sendirian karena karyawan-karyawannya sedang ada keperluan.

Yang sangat diherankan, keluarga akbar tiba-tiba berubah 180 derajat. Ketika Akbar meminta izin keluarganya untuk menikahi Uni, semua angkta bicara untuk menolak perihal tersebut. Dan Uni pun akhirnya sadar bahwa keluarga Akbar hanya ingin mengangkat menantu dari keluarga yang status sosialnya sama. Hati Uni berkecmuk luka, seakan-akan kasih sayng itu berubah menjadi monster balas dendam. Namun semua itu dapat Uni lupakan seiring berjalannya waktu.

Uni tetap bekerja di bioskop tersebut hingga pada suatu saat Tuhan memberikan kesempatan pada dirinya untuk mengobrol dengan anak pemilik bioskop tersebut. Dialah yang bernama Rendi. Rendi mengajak Uni untuk ikut dalam partai yang ia ikuti karena tak dapat diragukan lagi bahwa Uni pintar berorganisasi. Dari hasil pembicaraanya dengan Uni, ia mengetahui bahwa Uni pernah menjadi ketua Osis saat duduk di SMA dan menjadi ketua senat saat ia kuliah di Jakarta.

Tuhan memang Maha Kuasa, Ia memberikan yang terbaik bagi makhluknya selama ia berusaha.

Uni terbujuk juga untuk masuk dalam partai itu dan lama-kelamaan ia terus naik jabatan. Ia adalah pekerja keras, mau ditempatkan di derah mana saja dan kapan saja, waktu istirahatnya sangat tersita oleh tugas-tugas sehingga tak heran jika ia harus mencuri-curi waktu dalam perjalanan untuk sejenak tidur. Karunia datang. ia diangkat menjadi duta di Australia. Ia tidak ada perasaan nervous sedikitpun walau ia bukan dari studi politik maupun pemerintaha, melainkan dari kedokteran, ia mampu menjadi duta.

Di Australia ia berkenalan dengan Bemby, pemuda akan bergelar doktor yang juga berasal dari Padang. Mereka berdua saling mencintai, akhirnya mereka pulang ke Padang setelah Bemby selesai mendapatkan gelar doktor. Mereka berdua menikah, Uni diangkat menjadi Menteri Sosial dan Politik. Tanpa dinyana, Bemby adalah sepupu Akbar. Kini Uni merupakan orang yang tersukses di keluarga Akbar.

Cerita Koe

Cantiq, hanya tersenyum manis saat wajahnya bertatapan dengan seorang lelaki yang baru sekali bertemu saat di warnet kemarin. “Hai …. Pa Kabar?? Suara lelaki itu terdengar ramah menyapa cantiq. “Baik ….Jawab Cantik dengan wajah tersenyum malu kemerahan”.
“Mau kemana??? kok, kayak buru-buru banget.
“Iyah nih, mau les bahasa inggris padahal dah telat nih…
“Ya udah ikut bareng aza, saya anterin …

Dengan tanpa pikir panjang, cantiqpun ikut bersamanya dan merekapun bercanda, tertawa, namun cantiq merasa ada yang kurang sreg, karena cantiq belum tahu nama yang mengajaknya pergi bareng ke tempat les. “Eh, sorry, kita lom kenalan, nama kamu sapa?? Riandy… panggil Rian atau riandy juga ngga apa apa, yang enak di denger aza, asal jangan panggil tukul az, nanti ada yang kesaingan lagi he he he. Namaku Cantiq….”sambil menjulurkan tangannya, dan sedkit tersenyum kecil ….

Hari berganti hari, kesibukan Cantiq membuat dirinya tak pernah meluangkan waktu untuk bergaul bersama teman-temannya, Ia hanya berpikir, Gimana Ia bisa masuk sekolah yang bagus, kemadirian yang sudah ditanamkan orang tuanya sejak kecil menjadikan dirinya tak takut bersekolah jauh.
Tok … tok … tok … Cantiq … udah tidur belom ???? ketukan pintu mengagetkan cantiq yang sedang serius mengerjakan PR- B. Inggrisnya yang musti di kumpulkan besok.
“Iya .. Imas…. tunggu bentar…!!! Cantiq berjalan dengan malasnya membuka pintu rumahnya.
“Ada apa Imas, tumben nih!!!
“Sorry aku ganggu kamu nih, aku perlu bantuanmu, kamu kan pinter ngerjain tugas B. Inggris, aku bingung nieh , Ngga ngerti.
“Ya udah masuk, kamu sama siapa????
“Sendiri, Imas yang Nyelenong Masuk …!!

Malam yang Indah
Bintang-bintang menari dengan Klipnya
Ratu malam menghias dengan keanggunannya
Awan putih berkejaran dengan eloknya
Kunang-kunang menghiasi lampu rerumputan
alang-alang berdansa bersama tiupan angin
Suara Jengkrik bersiulan dengan merdunya

“Riandy …Rian makan dulu!”
Suara mamahnya memamnggil, Riandy yang sedang duduk dijendela memandangi langit yang indah spontan langsung menjawab panggilan mamahnya. “Iya mah… bentar”. Riandy yang sangat menyukai keindahan malam, malam-malamnya dijadikan teman kerinduannya pada Bintang-bintang.
Seperti biasa Riandy pergi bekerja sebelum dirinya pergi kuliah, harinya ia lakukan demi masa depan dirinya, Riandy lelaki yang sederhana, namun ia memiliki keinginan yang keras, dimana Riandy harus menopang dirinya dan juga adik-adiknya, Kuliah pun Ia biayai sendiri dari hasil kerjanya, gajinya Ia sisihkan di Bank, dan terkadang Ia kasihkan kepada adiknya.
“Hallo Riyan …..!!! Tepukan perempuan di pundaknya mengagetkan,
”Hai ….!!! Wajahnya sangat tak asing bagi Riyand,
“Cantiq …..(Riyan yang langsung menyalami tangannya)
“Baru pulang sekolah yah, kemana saja??Kok baru kelihatan.
“Iyah nih sekarang sibuk belajar mau Ujian Nasional.
“Eh… ada yang kosong??? mau nyari tugas nih ….. nyari artikel terus di kirim ke mailnya Guru!
“O…ada di Komputer No. 8!” jawab Riyand sambil nunjuk komputer di jajaran sebelah timur.
Suasana warnet yang rame, terkadang Riyand kewalahan memberikan pelayanan, namun bagi Riyand resiko bagi penjual jasa adalah melayani tamunya dengan keramahan, itulah yang harus ditanamkan. Pepatah mengatakan “Tamu adalah raja” dimintakan bikin mail, ngeprint, atau dimintakan nyari sebuah artikel, Riyan tetep memberikan senyuman manis kepada pelanggannya, namun Riyanpun terkadang merasa kesel kalo Komputernya sudah mulai ngadat, ngehang atau jaringan internetnya terputus.
“Riyand ….!!! Boleh minta tolong??? Suara Cantiq terdengar lembut ditelinga Riyand
“Boleh, kenapa?? ada masalah?”
“Kalo, mau ngirimin artikel lewat mail gimana ya???
“O.. cantiq copy aja dulu terus cantiq paste di kotak mail, terus tinggal send.
“Oo Gitu yah, makasih ya”
“Ya sama-sama, kalo perlu bantuan, bilang aza!! ya nanti Riyand bantu
Jam 12.30 an Riyand sudah harus berangkat ke Kampus, namun yang kebagian Sip siang belum kelihatan batang hidungnya, Riyand sangat kebingungan, dan merasa cemas kalo temannya takut terjadi apa-apa, di sms pending, di telepon pun mailbox.
“Waduh aku bisa terlambat nieh ke kampus” (bisik hati Riyand dalam hatinya)
“Riyand, kamu kenapa?? Sapa Cantiq ..
“Aku harus pergi kuliah nih, cuman temenku belum dateng!!
“Udah kamu telepon??
“Udah cuman mailbox terus.
Disela percakapannya Riand sama Cantiq terlihat di luar temenya senyum-senyum, dan acapkali berkata dan langsung bersalaman sama Riyand. “Sory, ban motorku kempes, jadi nambal dulu deh. He he he …
“Ya udah Riyand langsung berangkat, ya Brow!!
“Yoi, hati-hati, lo jangan ngebut, kemarin ada yang nabrak angsa langsung mati lo…
“Hah!! cuman nabrak angsa langsung mati. (Riyand tercengang keheranan)
“Heeuh, nabrak angsa, cuman dari pas jatuh, kelindes Mobil tronton, mas …
“Ha ha ha … tawa Riand cengengesan
“Eh bilangin sama Agung motornya Riyand pinjam.
Riyand pun bergegas pergi ke kampus, dan tak lupa Riyand juga pamitan sama Cantiq, yang lagi serius pandangi monitor!! Cantiq, Riyand tinggal dulu ya, kalo ada apa apa bilang aja ke temen Riyand…
“Dah jinak ko, ngga gigit …. he he he
“Apa sih Riyand …(sambil nyubitin Riyand kesel)
“Iyah, hati-hati ya Riyand.

Mengapa Perlu Optimis ?

Mengapa Perlu Optimis ?

Oleh: Ubaydillah, AN

Apakah Anda seorang yang optimis dalam menghadapi bulan-bulan ke depan di tahun 2007 ini? Tunggu dulu. Kita orang optimis atau pesimis tidak penting diutarakan secara verbal di hadapan orang lain. Kitalah orang yang paling tahu apakah kita seorang yang optimis atau pesimis. Tingkat ke-optimis-an dan ke-pesimis-an kita tidak bisa diukur dengan ucapan mulut. Mulut kita memang bisa saja mengatakan kita ini orang optimis. Meski begitu, jika yang kita praktekkan sehari-hari justru bertentangan dengan kaidah-kaidah optimisme, maka kita bukanlah orang yang optimis.

Optimisme memiliki dua pengertian. Pertama, optimisme adalah doktrin hidup yang mengajarkan kita untuk meyakini adanya kehidupan yang lebih bagus buat kita (punya harapan). Kedua, optimisme berarti kecenderungan batin untuk merencanakan aksi, peristiwa atau hasil yang lebih bagus. Kalau dipendekkan, optimis berarti kita meyakini adanya kehidupan yang lebih bagus dan keyakinan itu kita GUNAKAN untuk menjalankan aksi yang lebih bagus guna meraih hasil yang lebih bagus.

Optimisme seperti itu dalam prakteknya sangat diperlukan. Ini antara lain dengan alasan-alasan:

Pertama, energi positif (dorongan). Kalau bicara harapan sebatas harapan (baca: harapan mulut), tentunya kita sudah tahu kalau harapan itu tidak bisa mengubah apa-apa. Lalu untuk apa kita membutuhkan harapan (optimisme)? Ini untuk mengeluarkan energi positif. Untuk menciptakan langkah dan hasil yang lebih bagus dibutuhkan harapan yang lebih bagus agar energinya lebih bagus. Memiliki harapan yang lebih bagus akan memunculkan energi dorongan yang lebih bagus. Sekarang, coba kita bayangkan apa yang akan kita rasakan seandainya kita sudah tidak memiliki harapan adanya kehidupan yang lebih bagus di masa datang? Kemungkinan yang paling dekat adalah kita tidak terdorong untuk melakukan sesuatu yang lebih bagus, terasa hambar, terasa biasa-biasa saja. Kehidupan yang lebih bagus memang tidak bisa diwujudkan dengan hanya harapan, namun untuk meraihnya dibutuhkan harapan yang bagus. Karena itu ada yang mengatakan, selama harapan itu masih ada berarti kehidupan kita masih ada. Collin Powell sendiri mengakui: “Optimism is a force multiplier.

Kedua, perlawanan. Tingkat perlawanan seseorang terhadap masalah atau hambatan yang dihadapinya juga terkait dengan tingkat keoptimisannya. Orang dengan optimisme yang kuat biasanya punya perlawanan yang kuat untuk menyelesaikan masalah atau hambatan. Sebaliknya, orang dengan optimisme rendah (pesimis), biasanya punya tingkat perlawanan yang lebih rendah, cenderung lebih mudah pasrah pada realitas atau keadaan ketimbang memperjuangkannya.

Secara agak lebih ekstrim sedikit, kita bisa membagi manusia dalam menghadapi masalah / hambatan itu menjadi tiga kelompok, seperti yang ditulis Less Brown dalam “Learn To Be Winner” (Top Achievement: 2000]. Ketiga kelompok itu adalah the winner (pemenang), the loser (pecundang) dan the potential winner (calon pemenang). Menurut Kevin Costner, yang disebut pemenang itu adalah orang yang jatuh, gagal dan kurang, tetapi pada akhirnya menang karena pendirian, keyakinan dan komitmen yang dipegangnya dengan teguh untuk mencapai impiannya.”

Apa yang membuat seseorang menjadi pemenang dan pecundang? Tentu banyak faktor yang terlibat. Tapi kalau mau melihat kondisi faktor internal, tentu peranan harapan atau optimisme tidak bisa dielakkan. Kalau mau pakai pedoman pendapat Greg Phillip (The ultimate potential: 2004), faktor internal yang terlibat itu adalah: a) harapan, b) keyakinan, c) kontrol-diri, dan d) sikap mental.

Ketiga, sistem pendukung. Harapan optimisme juga berfungsi sebagai sistem pendukung. Kalau kita menginginkan keberhasilan, lalu kita berpikir berhasil, punya kemauan untuk berhasil, punya sikap yang dibutuhkan untuk berhasil dan melakukan hal-hal yang dibutuhkan untuk keberhasilan itu, maka logikanya kita pasti berhasil. Soal kapannya itu urusan lain.

Yang menjadi masalah buat kita adalah kita menginginkan keberhasilan tetapi kita malas-malas (tidak punya kemauan), punya sikap yang tidak mendukung, berpikir negatif, harapannya pesimis, dan lebih sering tidak melakukan hal-hal yang kita butuhkan untuk berhasil. Ibarat mesin, jika yang aktif hanya satu sistem, sementara sistem yang lain mati atau bekerja untuk hal-hal yang tidak kita inginkan, maka operasi sistem itu kurang optimal.

Intinya, harapan di sini bukan tujuan, apalagi tempat bergantung. Kita tidak boleh menggantungkan harapan pada harapan itu, melainkan pada usaha. Harapan di sini adalah metode atau jalan agar kita bisa mengeluarkan energi positif, bisa mengatasi masalah secara positif sepositif harapan kita dan bisa memiliki mesin prestasi yang seluruh sistemnya bergerak secara positif.

Sebuah temuan mengungkap bahwa orang yang memiliki harapan optimis, umumnya memiliki kualitas di dalam diri yang antara lain:

  • Punya fokus langkah yang selektif, punya sasaran usaha yang jelas
  • Bisa menerima fakta hidup dengan kesadaran, tanpa banyak mengeluh atau memprotes
  • §Memiliki bentuk keyakinan yang membangkitkan
  • Punya perasaan diberkati rahmat Tuhan
  • Punya kemampuan untuk menikmati kehidupan
  • Punya kemampuan dalam menggunakan akal sehatnya dalam menghadapi tantangan hidup
  • Punya kemampuan untuk menjalankan agenda perbaikan diri secara terus menerus
  • Punya penghayatan yang bagus terhadap praktek hidup yang dijalankan sehingga bisa membedakan praktek yang salah dan praktek yang benar; praktek yang tepat dan praktek yang menyimpang
  • Punya kepercayaan yang bagus terhadap kemampuannya
  • Punya perasaan yang bagus terhadap dirinya


Apa yang perlu dihindari dalam berharap?

Meski untuk berharap itu tidak ada peraturannya, namun berdasarkan pengalaman dan kebiasaan, ada beberapa hal yang akan lebih bagus kalau dihindari. Beberapa hal itu antara lain:

Pertama, harapan mulut (wish). Seperti apa harapan mulut itu? Kalau kita berharap adanya hari esok yang lebih bagus, namun itu hanya kita gunakan dalam ucapan atau tulisan, tanpa diiringi dengan tujuan, perencanaan, strategi, tehnik dan pelaksanaannya (aksi), ya ini namanya harapan mulut. Biasanya, harapan seperti ini tidak mengubah apa-apa. Harapan seperti ini sama seperti fantasi atau keinginan-keinginan yang sifatnya masih umu.

Para pakar pengembangan diri umumnya membedakan antara “wish” dengan “goal” (tujuan atau keinginan yang jelas). Katanya, orang lemah biasanya hanya punya wish; sementara orang kuat biasanya memiliki goal. Goal adalah keinginan dengan sasaran yang jelas dan jelas-jelas kita usahakan. Sekedar punya wish dalam pengertian seperti ini, tentu semua orang bisa. Sayangnya, praktek hidup ini tidak peduli dengan berbagai wish yang kita ucapkan.

Kedua, terlalu berharap (over-expectation). “Jangan terlalu berharap nanti kecewa sendiri”, itu pesan yang sering kita dengar. Memang ini tidak pasti tetapi biasanya begitu. Terlalu berharap itu berbeda dengan memiliki harapan yang kuat (optimis). Harapan yang kuat berujung pada aksi atau usaha yang kuat. Seperti yang sudah kita bahas, optimisme itu artinya kita menciptakan keyakinan dan menggunakannya dalam bertindak. Sementara, terlalu berharap biasanya hanya berhenti pada mengharap, untuk mengharap dan selalu mengharap. Ada pepatah yang berpesan begini: “Jika kau mengharapkan sesuatu, jangan terlalu mengharapkannya.” Bahkan Samuel Somarset mengamati bahwa terlalu mengharapkan sesuatu kerapkali malah mengundang datangnya sesuatu yang tidak kita harapkan. Inilah anehnya hidup itu.

Ketiga, berharap dengan setengah takut (ragu-ragu). Biasanya, harapan seperti ini lahir dari ketidaktahuan kita secara akurat. Jika kita mengharapkan hari esok yang lebih bagus, namun kita tidak tahu apa alasan kita berharap seperti itu, ya mau tidak mau harapan kita tidak steril. Harapan kita masih bercampur dengan ketakutan dan keragu-raguan. Seperti kata Coach Bear Bryant, yang membedakan orang per-orang itu bukan harapannya pada keberhasilan, tetapi persiapannya. Semua orang mengharapkan keberhasilan, tetapi hanya orang yang punya persiapan matang yang berpeluang untuk berhasil.

Keempat, menggantungkan harapan pada kenyataan.Kalau kita hari ini punya harapan cerah karena sehabis terima bonus tahunan, kemudian bulan depan kita berharap lesu karena tidak ada bonus, ini namanya menggantungkan harapan pada kenyataan. Artinya, kita men-set harapan itu sesuai dengan kenyataan-sementara yang kita hadapi.

Pada ukuran yang wajar, bisalah kita sebut ini kelemahan-manusiawi yang wajar. Dibilang tidak bagus memang tidak bagus tetapi ini dimiliki oleh semua manusia. Nah, agar kewajaran ini tidak membuahkan kerugian atau kefatalan, maka kita diajarkan untuk menggantungkan harapan pada Tuhan(iman), bukan pada realitas. Artinya, kita perlu belajar menemukan alasan yang kuat untuk bisa memiliki harapan optimisme, terlepas realitas-sementara yang kita hadapi. Seperti pesan Einstein, orang optimis bisa melihat sinar di ujung kegelapan; bisa melihat tanda-tanda peluang di balik kesulitan.

Kelima, mempertentangkan harapan dan kenyataan. Apa yang membuat orang stress berkepanjangan? Apa yang membuat orang terkena konflik-diri terlalu lama? Salah satunya adalah kurang bisa me-manage gap antara harapan dan kenyataan. Orang yang bisa me-manage, biasanya menjadikan kenyataan sebagai dorongan untuk mewujudkan harapannya. Mereka bisa menggunakan ketidakpuasan sebagai dorongan untuk menciptakan perubahan. Banyak kan orang yang akhirnya mendapatkan “berkah” dari kenyataan buruk yang dihadapinya?

Sebaliknya, orang yang belum bisa me-manage, kerapkali menjadikan kenyataan ini sebagai killer harapannya. Mereka menjadikan kenyataan sebagai penyubur apatisme dan pesimisme. Meski sama-sama menghadapi kenyataan yang sama, namun karena sikap mentalnya berbeda, ya akan berbeda hasilnya. Tidak sedikit kan orang yang selalu menuding kenyataan dan menjadikan kenyataan itu sebagai dalil pembenar untuk hopeless?

Bagaimana menciptakan harapan yang optimis?

Harapan optimistik berbeda dengan harapan pesimistik. Bedanya dimana? Bedanya adalah, yang pertama harus diciptakan, sedangkan yang kedua tidak usah diciptakan. Pertanyaannya adalah, bagaimana menciptakan harapan optimistik itu? Di bawah ini ada beberapa pilihan yang bisa kita jadikan acuan:

Pertama, memiliki tujuan atau sasaran aktivitas yang jelas. Apa tujuan yang hendak anda raih di tahun 2007 ini? Kalau anda pelajar/ mahasiswa, tentukan tujuan atau standar prestasi yang benar-benar ingin anda raih. Kalau anda seorang karyawan, tentukan tujuan atau standar prestasi yang hendak anda wujudkan. Kalau anda seorang pengusaha, tentukan tujuan usaha anda yang lebih tinggi dari yang kemarin.Banyak studi yang sudah mengungkap bahwa keoptimisan seseorang itu terkait dengan “internal value” dan “standard”. Memiliki harapan optimistik tidak bisa dibuat-buat. Sejauh di dalam batin kita ada standar, ada sasaran atau tujuan yang benar-benar berarti buat kita dan benar-benar kita perjuangkan, maka secara otomatis harapan itu muncul. Seperti kata C.R. Synder, Ph.D, penulis buku “The Psychology of Hope”, bahwa menentukan tujuan merupakan cara untuk membangkitkan harapan.

Kedua, ciptakan opini-diri yang bagus. Orang itu memang bermacam-macam. Terkait dengan opini-diri ini, ada orang yang meng-opini-kan dirinya sebagai orang lemah, tidak memiliki apa-apa, merasa tidak sanggup untuk merealisasikan tujuannya, merasa tidak punya alasan untuk berhasil, merasa tidak memiliki resource yang dibutuhkan, dan lain-lain. Ada juga orang yang berusaha meng-opini-kan dirinya sebagai orang kuat (warrior), merasa yakin dan mampu akan dapat mewujudkan tujuannya, merasa punya alasan yang kuat untuk berhasil, tahu apa yang harus dilakukan, tahu resource yang bisa digunakan, dan seterusnya.Opini-diri mana yang lebih positif untuk kita miliki? Tentu saja yang kuat. Opini-diri yang kuat memang tidak otomatis dapat merealisasikan tujuan-tujuan atau sasaran yang kita buat. Tetapi perlu diingat, untuk merealisasikan tujuan itu dibutuhkan opini-diri yang bagus. Coba saja kita membiarkan opini-diri yang lemah, mana mungkin kita sanggup untuk sekedar punya harapan yang optimistik.

Jhon C. Maxwell pernah berpesan begini: “Ketika anda mengubah pikiran anda maka keyakinan anda akan berubah. Ketika anda mengubah keyakinan anda maka harapan anda berubah. Ketika anda mengubah harapan anda maka sikap anda akan berubah. Ketika anda mengubah sikap anda maka prilaku anda akan berubah. Ketika anda mengubah prilaku anda maka performansi anda akan berubah. Ketika anda mengubah performansi anda maka hidup anda akan berubah.”

Ketiga, miliki sikap dan pandangan yang sehat tentang hidup ini. Konon, salah satu penyebab yang membuat orang gagal memiliki harapan optimistik adalah sikapnya yang kurang sehat. Bagaimana sikap dan pandangan yang kurang sehat itu? Salah satunya adalah ketika kita tidak bisa menerima kenyataan dengan berbagai macam warna-warninya (fakta kehidupan). Ketika kita tidak belajar menerima kehidupan ini seperti adanya untuk kita usahakan seperti yang kita inginkan, memang yang kerap terjadi malah membikin kita mudah terkena stress atau tekanan. Kalau sudah begini, harapan kita juga terancan. Tetaplah berharap akan adanya kehidupan yang lebih bagus tetapi juga harus mengakui dengan kesadaran akan fakta hidup yang ada: terkadang ada OK dan terkadang tidak OK.

Keempat, temukan model. Model yang dimaksudkan di sini adalah orang. Temukan orang yang kira-kira budaya hidupnya bisa anda contoh. Temukan orang yang kira-kira pendapatnya tentang diri anda dan dunia ini bisa membangkitkan anda. Temukan orang yang bisa meng-inspirasi anda. Saran Mark Twin, jangan mendekati orang yang ucapannya malah menghancurkan harapan anda (menggembosi). Jangan pula mencontoh orang yang tidak punya harapan optimistik apabila kita ingin punya harapan optimistik.

Orang seperti itu bisa orang yang anda di sekeliling anda, kenalan, atau orang yang anda kenal lewat karyanya saja. Di majalan Fast Company edisi 20 Desember 2006 ini, ada kalimat yang bagus untuk kita ingat. Kalimat itu bunyinya begini: Often the most important people in our network are those who are acquaintances.Acquaintances itu belum menjadi friend apalagi close friend, tetapi kenalan. Intinya, kita tidak perlu pusing mencari model orang karena ada dimana-mana dan bisa siapa saja.

Kelima, tingkatkan keimanan. Salah satu esensi keimanan adalah adanya kesadaran bahwa kita ini “dimiliki” (being owned) oleh Tuhan atau munculnya perasaan “kebersamaan” dengan Tuhan. Semakin kuat keimanan itu, semakin kuat juga kesadaran itu dan rasa kebersamaan itu. Punya kesadaran yang kuat bahwa kita ini “dimiliki” akan membuat kita tidak mudah merasa sendirian atau merasa tidak memiliki siapa-siapa dalam menatap masa depan. “Keimanan”, menurut kesimpulan Margo Jones, adalah prasyarat bagi semua usaha.

Semoga bermanfaat !